Pages

Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Saat Teduh 26 Agustus 2012

BELAJAR DARI SEMUT
Amsal 6 : 6 - 11

Semut termasuk binatang yang kecil dan lemah. Namun yang unik adalah melihat kenyataan bahwa semut termasuk salah satu binatang yang survive di tengah seleksi alam yang terus terjadi. Tak hanya itu, semut juga memiliki cara kerja yang sangat hebat, hingga Salomo sampai pebisnis modern menganjurkan agar kita belajar dari semut. Apa yang bisa kita pelajari dari semut?
  1. Semut adalah binatang yang sangat rajin.
    Kita tidak akan pernah melihat semut yang bengong sendirian. Kalau ada semut yang tidak bergerak, bisa dipastikan itu adalah semut mati. Semut adalah binatang yang rajin dan selalu bergerak ke sana ke mari untuk bekerja. Tak heran kalau semut tak pernah mati kelaparan. Apakah kita juga bekerja dengan rajin seperti semut? 
  2. Semut adalah binatang yang tak pernah menyerah.
    Tak kenal menyerah adalah sifat khas semut. Kalau tidak percaya, lakukanlah percobaan ini. Tangkaplah 
    seekor semut, lalu cobalah untuk meletakkan sesuatu untuk merintangi langkahnya. Saat melihat jalan di depannya ada hambatan, semua tidak akan duduk termenung, meratapi nasib yang malang dan pulang dengan rasa kecewa. Semut akan berusaha dengan segala cara untuk melewati hambatan itu. Bisa lewat atas, lewat bawah, lewat jalan memutar, bahkan kalau perlu bersama dengan semut-semut yang lain akan memindahkan rintangan tersebut!
  3. Semut adalah binatang yang mandiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri. 
    Amsal 6:7 menulis, biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya... Meski tidak ada yang mengawasi, semut akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bukankah kita yang hanya bekerja kalau diawasi atasan atau bos harusnya malu melihat kenyataan ini?
  4. Semut adalah tim yang luar biasa. 
    Mereka sangat ahli dalam menyampaikan informasi, sehingga tak perlu heran kalau dimana ada satu makanan, ribuan semut tiba-tiba sudah mengerumuninya. Semut punya tim yang hebat, sehingga dengan kerja sama yang baik, mereka bahkan bisa mengangkat makanan yang beratnya berkali lipat dari berat badannya.
Adakah kita bisa belajar dari semut tentang membangun tim yang sukses?


Source: www.renungan-spirit.com

Selasa, 08 Mei 2012

Saat Teduh 08 Mei 2012

USAHA MENJARING ANGIN
Yohanes 4 : 1-42





Semuanya dimulai dari sebuah keinginan. Keinginan yang tak banyak. Kita hanya menginginkan satu hal saja. Satu pekerjaan baru. Sebuah rumah baru. Seorang pasangan. Sebuah mercy sederhana. Sejumlah deposito, tak banyak juga tak apa. Atau bagaimana dengan sebuah jabatan baru? Seandainya keinginan kita sudah tercapai tentu kita akan merasa sangat puas dan perburuan tentang “hal-hal duniawi” itu akan berakhir, demikian kita berpikir.
Nyatanya? Pekerjaan kita yang baru terasa membosankan dan kita menginginkan pekerjaan yang lain. Rumah kita baru rupanya tak begitu bagus, apalagi jika kita melirik rumah tetangga sebelah. Mobil Mercy kita ternyata juga tak cukup mengangkat derajat kita, rasanya kita butuh mobil lain. Awalnya kita sangat puas dengan deposito yang kita miliki, tapi itu tak cukup memasukkan nama kita dalam daftar konglomerat. Jabatan baru ternyata sangat mengasyikkan, tapi lebih asyik lagi kalau bisa menggeser posisi atasan. Hidup dengan pasangan memang sangat indah, tapi sayang itu dulu... sekarang kita mulai lirik-lirik yang lain, siapa tahu dulu kita salah mengambil tulang rusuk.
Keinginan manusia tak ada habisnya. Kita tidak akan pernah puas. Bahkan ketika seisi dunia sudah menjadi milik kita, tak menutup kemungkinan kita masih menginginkan planet yang lain. Ini fakta yang sangat alkitabiah : dunia tidak akan pernah bisa memuaskan kita! Tahu keinginan dunia tak ada habisnya, tak seharusnya kita terpikat dan terjerat dengan semua keinginan ini. Semuanya hanya akan berujung pada kesia-siaan belaka.
Kita bukan berasal dari dunia. Kita adalah warga surga, itu sebabnya biarkanlah Allah yang memuaskan kita. Ya, hanya Allah yang bisa memuaskan kita, bukankah Yesus pernah berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Sungguh bodoh kalau kita menghabiskan semua waktu, tenaga, dan semua yang kita miliki hanya untuk mengejar sebuah keinginan yang tak ada habisnya. Mengutip perkataan Salomo, itu semua adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Sebaliknya, sungguh bijak orang yang mengejar perkara-perkara rohani lebih daripada perkara duniawi, karena ia akan mendapat kepuasan yang sejati dalam hidup.
Tata ulang prioritas hidup Anda. Kejarlah hal-hal rohani lebih daripada keinginan duniawi.


Source: www.renungan-spirit.com

Senin, 07 Mei 2012

Saat Teduh 07 Mei 2012

DOA TAK BERSYARAT
Daniel 3 : 1 - 30





Barangkali kita sudah sering mendengar tentang kasih tanpa syarat. Kasih tanpa syarat ditunjukkan oleh orang tua kita kepada kita anak-anaknya. Mereka tetap mengasihi dan merawat kita tidak peduli seperti apa keadaan kita. Kasih tanpa syarat juga ditunjukkan oleh Bapa kita di Sorga. Anugerah keselamatan-Nya diberikan bukan karena kebaikan kita, namun semata-mata karena kemurahan-Nya. Tapi, pernahkah kita mendengar tentang doa tak bersyarat? Itulah doa yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
Ketika ancaman dapur api sudah di depan mata, dengan lantang mereka berkata,”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Dan. 3:17-18) Bayangkan betapa tersentuhnya hati Tuhan mendengar pengakuan iman seperti itu. Saya membayangkan Sorga langsung gempar! Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala dan bersorak sorai, air mata haru Bapa di Sorga menitik di pipi-Nya.
Beranikah kita mengucapkan doa seperti yang diucapkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Bisakah kita tetap mengucap syukur seandainya jawaban doa Tuhan enggak sesuai dengan harapan kita? Mampukah kita tetap berkata “Tuhan itu baik” meski kenyataannya pahit bagi kita? Kita patut bersyukur memiliki Bapa yang begitu baik. Tuhan tidak pernah meremehkan iman sebesar biji sesawi sekalipun. Ketika kita sungguh-sungguh berdoa dengan iman, mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati - maka lihatlah Tuhan justru bekerja dengan cara-Nya yang ajaib menolong dan menyelamatkan kita. Di akhir cerita kita tahu Sadrakh dkk. selamat dari dapur api. Terjemahan King James menyebutkan pengakuan Nebukadnezar ,”Lo, I see four men loose, walking in the midst of the fire, and they have no hurt; and the form of the fourth is like the Son of God.” (Dan.3:25) Orang yang keempat yang dilihat Nebukadnezar dalam perapian itu rupanya seperti Anak Allah. Yesus sendiri hadir menyertai mereka, berjalan di dalam api untuk menyelamatkan mereka. Haleluya!


Source: www.renungan-spirit.com

Minggu, 06 Mei 2012

Saat Teduh 06 Mei 2012

TINGGALKAN BEBAN ITU
Ibrani 12 : 1 - 4





Saya sedang berjuang mati-matian menguruskan badan untuk menjaga agar berat badan tidak overweight, itu sebabnya saya rajin jogging. Saya bisa melihat pemandangan luar, bisa sedikit rileks dan badan pun jadi fit. Saat jogging saya mengenakan jaket tebal yang sebenarnya cukup berat juga. Alasan saya memilih jaket ini karena ada banyak kantong yang dimilikinya, memungkinan saya membawa banyak barang. Terlanjur memiliki dua nomor handphone, kedua ponsel saya bawa semua, biar tidak mengecewakan orang yang sedang menghubungi saya. Tak ketinggalan dompet berisi surat-surat penting. Sedikit uang saku untuk beli minuman saat selesai jogging. Masih juga harus bawa kunci kendaraan dan kunci rumah. Kalau saya pikir-pikir lagi, saya kadang tersenyum sendiri. Tampaknya lebih mirip kuda pembawa beban dan sama sekali tak mirip pelari tulen.
Tak ada pelari yang membawa banyak beban ketika berlari. Sedikit beban saja bisa membuat larinya tidak maksimal. Ia akan lebih cepat mengalami keletihan, bukan karena jarak jauh yang harus ditempuh melainkan karena beban berat yang harus dipikul. Itu sebabnya tak ada pelari yang masih sibuk memusingkan semua bebannya. Ia harus berani meninggalkan bebannya. Benar apa yang dicatat dalam kitab Ibrani 12:1, “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Kita semua adalah pelari. Kita harus menyelesaikan garis akhir dan mengakhiri pertandingan iman dengan baik. Masalahnya, kita tidak akan pernah bisa mengakhiri pertandingan dengan baik seandainya kita berlari sambil memikul beban-beban hidup. Mungkin beban yang kita bawa adalah masa lalu kita yang kelam, sehingga kita selalu pesimis dengan masa depan. Mungkin beban yang masih kita bawa adalah kebencian, dendam, kepahitan dan luka-luka hati yang tak terselesaikan. Mungkin beban yang masih kita bawa adalah masalah, tekanan, kekuatiran, ketakutan, trauma, depresi bahkan stress. Apapun beban kita, letakkanlah itu di bawah kaki Tuhan, serahkanlah dan biarkan Ia yang menyelesaikannya. Seperti ketika seorang ayah melihat anaknya yang masih kecil kepayahan membawa koper atau ransel yang begitu berat, tak mungkin ia akan biarkan anaknya memikul beban itu seorang diri. Itu juga yang akan dilakukan Bapa di surga sekiranya kita berani menyerahkan semua beban kita kepadaNya.
Daftarkanlah masalah-masalah yang selama ini menjadi beban bagi kita. Serahkanlah semuanya itu
kepada Tuhan.


Source: www.renungan-spirit.com

Sabtu, 05 Mei 2012

Saat Teduh 05 Mei 2012

IN CHARGE
Efesus 5 : 18 - 19





Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya,"Papa, seberapa besar sih Tuhan itu?" Ayahnya dengan bijaksana menjawab, "Tergantung seberapa besar kamu menyediakan tempat untuk-Nya, nak." Yup, bener banget! Seberapa besar peranan Allah dalam hidup kita memang sangat tergantung pada seberapa besar kita memberi-Nya bagian untuk berperan.
Apakah kuasa Roh Kudus besar ato kecil sangat tergantung pada tempat yang kita sediakan untuk-Nya. Kuasa Roh Kudus bisa bekerja amat dahsyat ketika kita mempersilakan Roh Kudus menguasai kehidupan kita sepenuhnya. Tapi kuasa Roh Kudus juga bisa nampak kecil bahkan seolah-olah nggak ada, kalau kita nggak memberi-Nya tempat untuk berperan dalam hidup kita.
Tapi sayangnya memberi wewenang kepada Roh Kudus untuk berkuasa atas hidup ini ternyata nggak mudah. Kita lebih suka mengatur apa-apa sendiri, mengikuti selera, mood, kehendak dan pikiran kita sendiri. Padahal seluruh keinginan kita selalu ingin menjauh dari Allah dan tenggelam dalam dosa. Sementara, kalo kita harus nurutin kata Roh Kudus, seringkali susah karena harus berkorban untuk taat. Saat hati sedang marah dan jengkel, kita harus menguasai diri untuk nggak menyakiti apalagi membalas dendam. Saat kita pengennya nurutin hawa nafsu, tapi harus belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan kesukaan kita.
Seandainya kita mau hidup dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus, tentu hidup kita jadi berubah. Hidup ini akan jadi sangat indah. Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita dan pekerjaan Tuhan dinyatakan melalui hidup kita. Masalahnya, apakah kita mau memberikan tempat bagi Roh Kudus dalam hidup kita? Tuhan ingin kita dipenuhi Roh Kudus-Nya setiap hari. Maukah kamu memberi-Nya tempat dalam hidupmu mulai hari ini?


Source: www.renungan-spirit.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More